Ilustrasi artikel
Gambar ilustrasi. Sumber: Unsplash

Yogyakarta, 30 April 2026 – Suasana hangat dan penuh makna menghiasi acara jamuan selamat datang dalam Konferensi Biennial ke-17 Welcome Clubs International (WCI) 2026 yang diselenggarakan di Kepatihan Kadipaten Pakualaman pada Kamis (30/4) malam. Momen ini dimanfaatkan sebagai ajang diplomasi budaya melalui perkenalan Batik Asthabrata kepada audiens internasional.

Batik khas Pakualaman tersebut sukses memukau sekitar 100 delegasi perempuan dari berbagai negara, menampilkan pesan kepemimpinan Jawa. Istri Wakil Gubernur DIY, GKBRAA Paku Alam, yang akrab disapa Gusti Putri, bersama putra sulungnya, BPH Kusumo Bimantoro, menyambut langsung para delegasi dengan keramahan khas Yogyakarta. Acara ini tidak hanya menjadi jamuan, tetapi juga wadah perjumpaan nilai yang mengintegrasikan tradisi, filosofi, dan pemberdayaan perempuan.

Kedatangan delegasi dari belasan klub perempuan internasional ini merupakan bagian penting dari rangkaian konferensi yang diprakarsai oleh Women’s International Club (WIC) Jakarta sebagai tuan rumah. Setelah agenda di Jakarta, Yogyakarta dipilih untuk menyajikan perspektif budaya yang berbeda, menampilkan sisi Indonesia yang berakar kuat pada tradisi namun tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Tema konferensi, “Bridging Traditions and Transformations: Empowering Women through Education and Cultural Heritage in a Changing World” atau “Menyambungkan Tradisi dan Transformasi: Memberdayakan Perempuan melalui Pendidikan dan Warisan Budaya di Dunia yang Berubah,” tercermin nyata dalam setiap rangkaian kegiatan. Para delegasi tidak hanya menikmati keindahan budaya, tetapi juga mengamati peran batik sebagai motor ekonomi dan sarana pemberdayaan perempuan di masyarakat.

Pada puncak acara gala dinner, Gusti Putri memperkenalkan Batik Asthabrata sebagai karya otentik Pakualaman yang terinspirasi dari manuskrip kuno koleksi Perpustakaan Widyapustaka, seperti Sestradisuhul dan Sestra Ageng Adidarma, yang memuat ajaran kepemimpinan Jawa.

“Saya merasa terhormat dapat menyambut tamu-tamu delegasi perempuan dunia ini. Batik Asthabrata lahir dari naskah-naskah kuno yang kami jaga dan menjadi bagian dari perjalanan budaya kami,” ujar Gusti Putri.

Asthabrata sendiri merupakan ajaran kepemimpinan Jawa yang merujuk pada delapan karakter dewa lokapala, di mana ‘astha’ berarti delapan dan ‘brata’ berarti pengendalian diri. Nilai-nilai ini diwujudkan dalam motif batik yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga kaya akan pesan moral mengenai kepemimpinan yang bijaksana, adil, dan bertanggung jawab.

“Batik Asthabrata bukan sekadar kain, tetapi narasi kepemimpinan. Melalui batik, nilai-nilai luhur Jawa diperkenalkan sebagai inspirasi universal yang melampaui batas budaya dan negara,” tegas Gusti Putri, yang juga dikenal sebagai seorang pembatik.

Conference Chairperson WCI Biennial Conference ke-17, Dr. Nina Handoko, mengapresiasi sambutan hangat dari Gusti Putri yang membuat seluruh delegasi merasa diterima dan dihargai. “Kami tidak sekadar datang, tetapi benar-benar diterima. Ini adalah perjumpaan yang personal dengan budaya dan nilai,” ungkapnya.

Konferensi ini berhasil menyatukan perempuan dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris Raya, Jerman, Korea Selatan, dan Indonesia, dalam satu energi kolektif untuk memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan. Delegasi membawa pulang dari Yogyakarta bukan hanya kenangan, tetapi juga perspektif baru tentang harmoni, empati, dan kekuatan budaya sebagai fondasi masa depan.

Pengalaman di Yogyakarta menegaskan bahwa warisan budaya bukan hanya jejak masa lalu atau artefak statis, melainkan kekuatan hidup yang terus bergerak dan berinteraksi dengan dunia. Melalui batik, dunia menyaksikan bagaimana nilai lokal Indonesia dapat berbicara lantang di panggung global.

Sebelum gala dinner, para delegasi berkesempatan merasakan pengalaman otentik Yogyakarta dengan menaiki andong dari Malioboro menuju Puro Pakualaman. Setibanya di lokasi, mereka disambut langsung oleh Gusti Putri, mengikuti tur istana, sesi berbagi mengenai pengembangan batik di lingkungan kadipaten, serta menikmati pertunjukan budaya yang mengawali jamuan malam penuh makna tersebut. (Fn/Ts/Cbs)

Disclaimer & Legal Notice

Seluruh informasi di situs ini dipublikasikan dengan itikad baik untuk tujuan informasi umum. Segala tindakan yang dilakukan pembaca berdasarkan informasi dari situs ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing. Artikel ini disusun dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Mohon gunakan informasi secara bijak dan lakukan verifikasi tambahan bila diperlukan. Jika ditemukan kesalahan informasi atau konteks, silakan hubungi via WhatsApp di nomor +62-831-9391-8288.