Ilustrasi artikel
Gambar ilustrasi. Sumber: Unsplash

Pemerintah Daerah (Pemda) DIY bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah memastikan ketersediaan hewan kurban menjelang Iduladha 1447 Hijriah aman. Selain itu, harga hewan kurban dipastikan tetap terkendali, dan pengawasan kesehatan hewan diperketat untuk mencegah penyebaran penyakit hewan menular strategis, termasuk antraks.

Pada Jumat (8/5), TPID DIY dan TPID Kota Yogyakarta melakukan pemantauan langsung di UD Segar Farm, Pakuncen, Wirobrajan. Fokus pemantauan tidak hanya pada pasokan dan harga, tetapi juga memastikan hewan kurban yang masuk ke Kota Yogyakarta dalam kondisi sehat, layak jual, dan aman dikonsumsi.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyatakan bahwa kebutuhan hewan kurban masyarakat dipastikan tercukupi, meskipun sebagian besar pasokan masih didatangkan dari luar daerah seperti Gunungkidul, Magelang, Madura, dan Bali. Langkah antisipasi terus diperkuat untuk mencegah lonjakan inflasi dan munculnya kasus penyakit ternak saat momentum Iduladha.

“Yang menjadi perhatian utama bukan hanya ketersediaan stok, tetapi juga kesehatan hewan kurban. Pemeriksaan kesehatan terus dilakukan bersama instansi terkait agar masyarakat mendapatkan hewan kurban yang aman dan sehat. Insyaallah kebutuhan tercukupi dan inflasi tetap terkendali,” ujar Wawan.

Saat ini, harga sapi kurban berkisar antara Rp24 juta hingga Rp25 juta per ekor. Meskipun ada kenaikan dibandingkan tahun lalu, kondisi pasar dinilai masih stabil dan daya beli masyarakat terjaga. Pemerintah juga mengantisipasi maraknya pasar tiban hewan kurban dengan menerbitkan surat edaran yang mewajibkan pedagang mengantongi izin penjualan dan rekomendasi dari kelurahan.

“Kami juga mengatur agar lapak penjualan tidak menggunakan aset milik pemerintah. Semua harus tertib dan memenuhi syarat kesehatan hewan,” tambah Wawan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, menjelaskan bahwa populasi ternak di Kota Yogyakarta masih sangat terbatas, dengan populasi sapi hanya sekitar 200 ekor dan kambing lebih sedikit. Padahal, pada Iduladha tahun lalu, total hewan kurban yang dipotong mencapai 15.777 ekor, baik di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) maupun titik pemotongan masyarakat.

“Karena itu Kota Yogya masih bergantung pada pasokan luar daerah. Namun seluruh hewan yang masuk wajib membawa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan sertifikat veteriner. Pemeriksaan fisik juga dilakukan setiap hari oleh petugas,” jelas Sukidi.

Pengawasan kesehatan hewan diperketat menjelang hari penyembelihan. Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta menyiagakan ratusan petugas gabungan yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dan tenaga kesehatan hewan untuk memeriksa kesehatan ternak di berbagai wilayah, serupa dengan skema tahun lalu.

“Tahun lalu kami menurunkan 135 petugas saat Iduladha hingga hari tasyrik. Mereka bekerja pagi hingga malam untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai prosedur kesehatan,” imbuhnya.

Langkah ini didukung oleh Surat Edaran (SE) Gubernur DIY tentang pengendalian inflasi dan peningkatan kewaspadaan terhadap Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS). Melalui kebijakan ini, pemerintah kabupaten/kota diminta memperketat pengawasan lalu lintas ternak, meningkatkan vaksinasi, serta memperkuat pemeriksaan antemortem dan postmortem di lokasi pemotongan hewan kurban.

Kepala Tim Perumusan Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Arya Jodilistyo, mengonfirmasi bahwa kondisi inflasi DIY hingga saat ini masih terkendali. Berdasarkan rilis BPS DIY April 2026, DIY bahkan mengalami deflasi bulanan.

“Momentum Iduladha memang mendorong kenaikan permintaan hewan kurban, tetapi pasokan tetap aman dan distribusi terjaga. Karena itu inflasi masih terkendali,” kata Jodi.

Sementara itu, pengelola UD Segar Farm, Kuncen Sudi Harsoyo, melaporkan bahwa permintaan hewan kurban mulai meningkat signifikan menjelang Iduladha. Kandangnya saat ini menyiapkan puluhan sapi dari Madura, Pamekasan, hingga wilayah DIY, dengan jenis sapi PO dan Madura menjadi yang paling diminati.

“Harga tahun ini naik sekitar Rp1 juta sampai Rp1,5 juta per ekor. Yang paling dicari masyarakat kisaran Rp24 juta sampai Rp25,5 juta. Semua sapi sudah rutin diperiksa dokter hewan dan dilakukan vaksinasi,” pungkasnya. (Fn/Dn/Tfk)

Disclaimer & Legal Notice

Seluruh informasi di situs ini dipublikasikan dengan itikad baik untuk tujuan informasi umum. Segala tindakan yang dilakukan pembaca berdasarkan informasi dari situs ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing. Artikel ini disusun dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Mohon gunakan informasi secara bijak dan lakukan verifikasi tambahan bila diperlukan. Jika ditemukan kesalahan informasi atau konteks, silakan hubungi via WhatsApp di nomor +62-831-9391-8288.