Ilustrasi artikel
Gambar ilustrasi. Sumber: Unsplash

Yogyakarta, 11 Mei 2026 – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menekankan bahwa masa depan peradaban manusia sangat ditentukan oleh cara menjaga proses kelahiran. Di era teknologi yang serba cepat ini, tantangan utama kesehatan peradaban bukan hanya memperpanjang usia hidup, tetapi memastikan kehidupan yang lahir memiliki martabat, keselamatan, dan kemanusiaan.

Pernyataan ini disampaikan Sri Sultan saat membuka Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVII Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) 2026 di Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta, pada Senin (11/05). Pertemuan ilmiah ini mengusung tema ‘Implementasi Obstetri Ginekologi Sosial dalam Peningkatan Kuantitas & Kualitas Pelayanan Obstetri dan Ginekologi: Strategi Penurunan AKI, AKB serta Double Burden dengan Integrasi Kesehatan Reproduksi dan Hilirisasi Berbasis Kearifan Lokal.’

Sri Sultan mengingatkan bahwa pada abad ke-20, kemajuan pesat dalam antiseptik, transfusi darah, antibiotik, dan ultrasonografi telah mengubah persalinan dari peristiwa berisiko tinggi menjadi lebih aman. Kini, dunia memasuki era baru dengan kemajuan seperti precision medicine, kecerdasan buatan, fetal genomics, robotic surgery, dan digital maternal monitoring yang secara fundamental mengubah pelayanan obstetri dan ginekologi.

Namun, di tengah kemajuan teknologi tersebut, dunia kesehatan global justru semakin menyadari pentingnya pelayanan yang holistik. Sri Sultan menyatakan bahwa pelayanan kesehatan yang paling efektif adalah yang memahami manusia secara utuh, tidak hanya fisik, tetapi juga budaya, psikologi, lingkungan sosial, dan nilai-nilai yang dianut.

Pendekatan global seperti respectful maternity care, woman-centered care, dan cultural competency in healthcare menegaskan bahwa pelayanan maternal modern harus menghormati pengalaman, martabat, dan konteks budaya ibu. Pandangan ini sejalan dengan konsep Maurice Merleau-Ponty tentang tubuh sebagai ruang pengalaman dan kesadaran, bukan sekadar objek biologis.

Sri Sultan menambahkan, pengalaman melahirkan adalah pengalaman eksistensial yang melibatkan dimensi fisik, psikologis, sosial, dan budaya. Teori ekologi perkembangan manusia pun menggarisbawahi bahwa kesehatan ibu dan anak tidak terlepas dari ekosistem yang melingkupinya, mulai dari keluarga, komunitas, hingga nilai budaya masyarakat.

Kesadaran akan hal ini, menurut Sri Sultan, telah lama tertanam dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Proses kelahiran dipandang sebagai peristiwa peradaban, bukan hanya biologis. Sejak awal kehamilan, masyarakat Jawa telah memiliki serangkaian upacara daur hidup yang bersifat preventif, psikologis, sosial, dan spiritual.

Dalam tradisi Jawa, rangkaian kehamilan hingga kelahiran membentuk sistem dukungan sosial terstruktur. Dimulai dari ngabor-abori (satu bulan kehamilan) sebagai pengakuan komunitas, dilanjutkan ngloroni hingga nglimani (bulan kedua hingga kelima) sebagai pengawalan sosial dan spiritual. Puncaknya adalah mitoni atau tingkeban (tujuh bulan kehamilan) yang berarti ‘pitulungan’ atau pertolongan, di mana keluarga dan lingkungan memberikan doa serta dukungan moral dan psikologis.

Tradisi berlanjut dengan ngwoloni dan nyangani (bulan kedelapan dan kesembilan) sebagai pendampingan menjelang persalinan. Setelah bayi lahir, tradisi Jawa juga memiliki mekanisme sosial dan simbolik seperti mendhem ari-ari (menanam ari-ari), brokohan (ungkapan syukur), sepasaran (hari kelima), puputan (lepasnya tali pusar), dan selapanan (hari ke-35).

Sri Sultan mengemukakan bahwa rangkaian tradisi ini menunjukkan masyarakat Jawa telah lama membangun model pendampingan maternal dan neonatal berbasis komunitas yang selaras dengan prinsip kesehatan ibu dan anak kontemporer, yang terbukti mengurangi distres persalinan, memperpendek durasi persalinan, dan menurunkan risiko operasi caesar.

Oleh karena itu, Sri Sultan memandang tema pertemuan ilmiah ini sangat mulia, karena menggabungkan ilmu kedokteran modern, teknologi kesehatan, riset ilmiah, dan kebijaksanaan budaya untuk membangun masa depan kesehatan Indonesia. Ia berharap forum ini menghasilkan gagasan besar, kolaborasi produktif, dan komitmen nyata untuk menjaga keselamatan, martabat, dan penghormatan ibu di Indonesia.

Ketua PP HOGSI, Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG, Subsp. Obginsos, MP, menjelaskan bahwa HOGSI berfokus pada peningkatan kualitas pelayanan obstetri ginekologi melalui pendidikan, pelatihan, dan kolaborasi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah dan kearifan lokal untuk meningkatkan kesehatan ibu sebagai tonggak generasi emas Indonesia.

Dwiana menyoroti isu stunting yang berawal dari kesehatan ibu selama kehamilan. Ibu yang sehat selama 270 hari kehamilan dan dua tahun pertama pasca-kelahiran sangat krusial untuk mencegah stunting. HOGSI berkomitmen meningkatkan kualitas ibu melalui pendidikan calon dokter, kolaborasi dengan bidan dan perawat di layanan primer, serta memperkuat kemitraan dengan institusi pendidikan kedokteran melalui workshop yang mencakup keterampilan klinis dan pedagogis.

Dwiana menutup dengan ajakan untuk merangkai keilmuan dan kemampuan mengajar guna berkolaborasi dan membantu pemerintah menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta double burden.

PIT XVII HOGSI 2026 meliputi simposium, workshop, dan forum. Workshop diselenggarakan pada 8-12 Mei 2026, sementara simposium berlangsung pada 11-13 Mei 2026 di Royal Ambarrukmo Hotel.

Disclaimer & Legal Notice

Seluruh informasi di situs ini dipublikasikan dengan itikad baik untuk tujuan informasi umum. Segala tindakan yang dilakukan pembaca berdasarkan informasi dari situs ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing. Artikel ini disusun dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Mohon gunakan informasi secara bijak dan lakukan verifikasi tambahan bila diperlukan. Jika ditemukan kesalahan informasi atau konteks, silakan hubungi via WhatsApp di nomor +62-831-9391-8288.