Ilustrasi artikel
Gambar ilustrasi. Sumber: Pexels

Yogyakarta, 8 Juli 2026 – Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menilai penyelenggaraan The 17th ASEAN-China Working Group on Regional Air Services Arrangements (17th ACWG-RASA) menjadi momen penting untuk mempererat konektivitas udara regional. Acara ini juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi budaya dan pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta kepada delegasi dari negara-negara ASEAN dan Tiongkok.

Ni Made menyampaikan hal tersebut saat menghadiri seremoni pembukaan 17th ACWG-RASA di Hotel De Djogja pada Rabu (8/7). Ia menekankan bahwa pertemuan ini membahas konektivitas udara yang semakin strategis bagi kawasan. Bagi Yogyakarta, forum ini sangat berharga karena tidak hanya terkait pengembangan bandara internasional yang membutuhkan masukan, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk mempromosikan budaya lokal.

Dalam sambutannya, Ni Made menggarisbawahi peran krusial konektivitas udara seiring meningkatnya mobilitas masyarakat. Layanan penerbangan regional, menurutnya, tidak hanya mendukung pergerakan antarwilayah, tetapi juga menjadi sarana penguatan kerja sama ekonomi, pariwisata, pendidikan, kebudayaan, serta mempererat persahabatan antar masyarakat di kawasan ASEAN dan Tiongkok.

“Yogyakarta memahami dengan baik makna konektivitas itu. Bagi kami, penerbangan tidak hanya menghubungkan satu bandara dengan bandara lain. Ia mempertemukan manusia, membuka ruang dialog, dan memperpendek jarak antara gagasan, kesempatan, dan masa depan bersama,” ujar Ni Made.

Sebagai Kota Budaya, Kota Pendidikan, dan salah satu destinasi wisata utama Indonesia, Yogyakarta dinilai memiliki daya tarik yang signifikan untuk diperkenalkan kepada dunia. Ni Made menambahkan, meskipun Bali lebih dikenal secara internasional, Yogyakarta menawarkan keragaman budaya yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, termasuk para delegasi yang hadir.

Oleh karena itu, di sela-sela agenda persidangan yang padat, Ni Made mengajak para delegasi untuk memanfaatkan waktu mereka di Yogyakarta guna mengenal lebih dekat kekayaan budaya dan keramahan masyarakat setempat. Ia berharap para peserta tidak hanya membawa pulang hasil pertemuan yang produktif, tetapi juga kesan positif tentang Yogyakarta sebagai kota budaya, pendidikan, dan destinasi wisata.

“Semoga pertemuan ini dapat memperkuat kerja sama di antara ASEAN dan Cina. Selamat mengikuti The 17th ASEAN‑China Working Group on Regional Air Services Arrangements. Semoga pertemuan ini berjalan lancar dan membawa manfaat bagi kawasan kita,” tutup Ni Made.

Forum kerja sama berkelanjutan di bidang transportasi udara antara ASEAN dan Tiongkok ini berlangsung selama tiga hari, dari 7 hingga 9 Juli 2026, di Hotel De Djogja. Kegiatan ini mempertemukan delegasi dari negara-negara ASEAN dan Tiongkok, maskapai penerbangan, operator bandara, produsen pesawat, serta para pemangku kepentingan lainnya. Mereka akan membahas peningkatan konektivitas, kerja sama teknis terkait sistem pesawat nirawak (Unmanned Aircraft System/UAS), keselamatan penerbangan, dan harmonisasi regulasi.

Rangkaian acara diawali dengan ASEAN Caucus Meeting dan ASEAN‑China Airlines Forum pada 7 Juli. Selain itu, para delegasi juga dijadwalkan mengunjungi Yogyakarta International Airport (YIA) untuk meninjau fasilitas operasional dan mengeksplorasi potensi pengembangan komersial bandara tersebut.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI, Lukman F. Laisa, menyatakan bahwa keberadaan YIA mencerminkan keseriusan Indonesia dalam memperkuat konektivitas udara. Sebagai bandara utama di DIY, YIA dirancang untuk melayani pesawat berbadan lebar seperti Airbus A380 dan Boeing 777, serta memiliki ketahanan terhadap bencana alam hingga gempa bumi magnitudo 8,8.

Lukman mengapresiasi kehadiran dan partisipasi seluruh delegasi dalam forum tersebut, yang menunjukkan komitmen bersama untuk memperkuat kerja sama penerbangan di kawasan ASEAN dan Tiongkok. Ia berharap diskusi dalam kelompok kerja ini dapat menghasilkan kesepakatan yang memperluas konektivitas udara, membuka peluang pasar baru, meningkatkan efisiensi operasional, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan ekonomi dan sosial negara-negara peserta.

Lebih lanjut, Lukman menekankan pentingnya pengembangan kerja sama penerbangan regional yang tetap berpedoman pada prinsip-prinsip penerbangan sipil internasional. Aspek keselamatan, keamanan, dan efisiensi harus menjadi landasan utama dalam setiap kebijakan dan kerja sama yang dibangun.

Lukman juga menyambut baik penyelenggaraan pertemuan di Yogyakarta, mengingat kota ini tidak hanya dikenal sebagai pusat budaya dan pendidikan, tetapi juga memiliki keramahan yang menarik bagi tamu internasional.

Disclaimer & Legal Notice

Seluruh informasi di situs ini dipublikasikan dengan itikad baik untuk tujuan informasi umum. Segala tindakan yang dilakukan pembaca berdasarkan informasi dari situs ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing. Artikel ini disusun dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Mohon gunakan informasi secara bijak dan lakukan verifikasi tambahan bila diperlukan. Jika ditemukan kesalahan informasi atau konteks, silakan hubungi via WhatsApp di nomor +62-831-9391-8288.