
Di tengah maraknya kedai kopi modern, Katamata & Roastery di Selang, Wonosari, Yogyakarta, menawarkan sebuah narasi yang berbeda. Tempat ini tidak hanya menjual kopi, tetapi juga mengemban misi untuk membangkitkan kembali kejayaan kopi lokal Gunungkidul yang tumbuh di lereng karst.
Kedai kopi ini menjadi salah satu titik kunjungan dalam acara Touring Bergerak Bersama JNE 2026 yang diselenggarakan bersama Forum Jurnalis Jogja (FJ2) pada Jumat, 15 Mei 2026.
Berlokasi di antara Wonosari dan Karangmojo, Katamata dikenal sebagai kedai kopi sekaligus roastery pertama di Gunungkidul yang mengolah kopi lokal secara mandiri.
Pendirinya, Edi Dwi Atmaja, memulai usahanya dari sebuah angkringan sederhana pada tahun 2015 setelah kembali dari Bogor, tempat ia pernah menjadi pengajar honorer. Lulusan Biologi dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini kemudian mengembangkan usahanya menjadi kedai kopi dan roastery pada tahun 2016.
“Awalnya kami kesulitan mendapatkan kopi berkualitas. Jika mengambil dari luar, harganya mahal, sehingga kami memutuskan untuk membangun roastery sendiri,” ungkap Edi.
Selain berfokus pada bisnis, Edi juga aktif mendampingi para petani kopi lokal Gunungkidul. Ia melihat potensi besar pada kopi robusta dari kawasan karst yang memiliki karakter rasa kuat dan khas pahit.
Menurutnya, rasa pahit tersebut timbul akibat tingginya kandungan mineral dalam tanah kapur di perbukitan Gunungkidul, yang memungkinkan tanaman kopi bertahan di kondisi minim air.
“Kelebihan kopi Gunungkidul memang lebih pahit dan memiliki karakter yang kuat,” ujarnya.
Dengan keunikan rasa tersebut, Edi mulai serius membangun citra kopi Gunungkidul agar mampu bersaing dengan daerah penghasil kopi lainnya di Indonesia.
Saat ini, Katamata melayani pengiriman kopi olahan ke berbagai wilayah di Pulau Jawa, dengan produk yang paling diminati adalah kopi siap seduh.
“Sekarang pengiriman bisa dilakukan dua hingga tiga kali seminggu dengan volume lima hingga sepuluh kilogram. Sejak awal berdiri, kami selalu menggunakan jasa JNE,” jelasnya.
Selain kopi lokal Gunungkidul, Katamata juga menyediakan biji kopi dari berbagai daerah lain seperti Aceh Tengah, Enrekang, Priangan, Bondowoso, hingga Temanggung.
Menariknya, Edi juga menelusuri sejarah kopi Gunungkidul yang ternyata telah ada sejak era Mangkunegaran IV pada akhir abad ke-18. Jejak tanaman kopi tua masih dapat ditemukan di wilayah Ponjong, Semin, Nglipar, hingga Ngawen.
Melalui pendampingan bersama Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Edi turut membantu memperluas penanaman kopi robusta di Gunungkidul.
“Di Gunung Gambar, misalnya, kami berhasil menambah sekitar 3.000 pohon kopi dan panen kemarin mencapai satu kuintal,” terangnya.
Kini, Katamata tidak hanya berfungsi sebagai tempat nongkrong, tetapi juga menjadi ruang edukasi kopi, tempat pelatihan barista, hingga sarana untuk mengenal sejarah kopi Gunungkidul yang perlahan bangkit kembali.
Seluruh informasi di situs ini dipublikasikan dengan itikad baik untuk tujuan informasi umum. Segala tindakan yang dilakukan pembaca berdasarkan informasi dari situs ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing. Artikel ini disusun dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Mohon gunakan informasi secara bijak dan lakukan verifikasi tambahan bila diperlukan. Jika ditemukan kesalahan informasi atau konteks, silakan hubungi via WhatsApp di nomor +62-831-9391-8288.