Ilustrasi artikel
Gambar ilustrasi. Sumber: Unsplash

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) secara resmi meluncurkan program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Program ini bertujuan untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga matang secara batiniah dan memiliki perilaku luhur, yang disebut sebagai ‘Jalma Kang Utama’ atau manusia unggul. Langkah strategis ini dirancang untuk menjaga identitas generasi muda agar tetap terhubung dengan akar budaya mereka di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menekankan bahwa tantangan pendidikan saat ini melampaui sekadar menghasilkan individu yang cerdas secara akademik. Beliau menyampaikan hal ini pada acara Byawara dan Peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan yang diselenggarakan pada Senin, 4 Mei 2026, di SMA 6 Yogyakarta.

“Tantangannya bukan hanya bagaimana melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang utuh. Sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa disertai kedewasaan nilai, dapat membuat manusia kehilangan arah, bahkan tercerabut dari akar budayanya sendiri,” ujar Sri Sultan.

Sri Sultan menjelaskan bahwa PKJ bukan sekadar program administratif, melainkan sebuah gerakan kebudayaan yang berakar pada falsafah luhur ‘Hamemayu Hayuning Bawana’. Falsafah ini mengajarkan pentingnya menjaga harmoni antara sesama, alam, dan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.

Melalui gerakan ini, diharapkan lahir generasi yang memiliki jiwa satriya, yang tercermin dalam sikap ‘sawiji, greget, sengguh, lan ora mingkuh’. “Pendidikan tidak boleh dipahami sebagai proses pengajaran, melainkan juga sebagai proses pembudayaan. Pendidikan harus menjadi ruang bertemunya pengetahuan, karakter, dan kesadaran hidup,” tambah Sri Sultan.

Karakter yang dibentuk melalui PKJ dipercaya akan mewujudkan pribadi yang ‘karyenak tyasing sasama’, yaitu individu yang mampu memberikan ketenteraman bagi sesama. Hal ini menjadi pondasi penting agar kemajuan intelektual tetap dibarengi dengan kepekaan sosial yang tinggi.

Sri Sultan juga menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan karakter ini tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Efektivitas PKJ sangat bergantung pada sinergi ekosistem yang kuat, meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan berasal dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bahkan lebih luas lagi, ia bertumpu pada sinergi Kraton, Kampus, dan Kampung yang menjadi ekosistem hidup bagi tumbuhnya karakter generasi,” jelas Sri Sultan.

Peluncuran ini menandai dimulainya implementasi konkret Pendidikan Khas Kejogjaan dalam kurikulum dan kehidupan sehari-hari. Sri Sultan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tidak hanya berhenti pada teori, tetapi aktif menghidupkan nilai-nilai tersebut.

“Peluncuran hari ini adalah penanda penting bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan telah beranjak dari gagasan menuju gerakan nyata. Dari konsep menuju implementasi. Dari wacana menuju pembudayaan,” tegas Sri Sultan.

Sri Sultan mengutip pepatah ‘ngèlmu iku kalakonĂ© kanthi laku’ sebagai pengingat bahwa ilmu sejati baru bermakna jika diwujudkan melalui tindakan nyata. Dengan PKJ, Pemda DIY optimis dapat melahirkan generasi berbudaya yang membawa kemaslahatan bagi bangsa dan dunia.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Muhammad Setiadi, melaporkan bahwa implementasi PKJ di DIY menunjukkan tren positif. Hasil evaluasi awal menunjukkan indeks karakter peserta didik mencapai skor memuaskan, yaitu 4,1 dari skala 5.

Capaian ini merupakan hasil dari pengembangan kurikulum yang dimulai sejak tahun 2019, terinspirasi dari pidato ilmiah Sri Sultan Hamengku Buwono X mengenai pentingnya karakter berbasis budaya. PKJ dikembangkan melalui proses partisipatif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, organisasi pendidikan, dan tokoh masyarakat, melalui berbagai Focus Group Discussion (FGD) sejak tahun 2022.

Pada tahun 2023, tim pengembang berhasil menyusun empat buku panduan utama PKJ, mencakup buku induk serta panduan untuk jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga tinggi. Nilai-nilai utama PKJ bersifat inklusif dan kolaboratif, menyerap kearifan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, Taman Siswa, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah, yang dipadukan dengan nilai-nilai pendidikan modern.

Implementasi PKJ di satuan pendidikan tidak hanya sebatas mata pelajaran sejarah, melainkan diintegrasikan ke dalam budaya sekolah dan praktik kehidupan sehari-hari untuk memastikan siswa benar-benar menghayati nilai-nilai tersebut. Keberlanjutan program ini didukung oleh Dana Keistimewaan (Danais) DIY dan kolaborasi lintas sektoral.

Setelah tahap bimbingan teknis bagi guru dan dosen pada tahun 2024 serta evaluasi dampak pada tahun 2025, PKJ siap diterapkan secara lebih luas. Ke depan, Pendidikan Khas Kejogjaan akan diimplementasikan secara bertahap mulai dari jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA/SMK di seluruh wilayah Yogyakarta. Peluncuran ini menjadi komitmen bersama untuk memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya sebagai standar resmi pendidikan di Bumi Mataram.

Disclaimer & Legal Notice

Seluruh informasi di situs ini dipublikasikan dengan itikad baik untuk tujuan informasi umum. Segala tindakan yang dilakukan pembaca berdasarkan informasi dari situs ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing. Artikel ini disusun dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Mohon gunakan informasi secara bijak dan lakukan verifikasi tambahan bila diperlukan. Jika ditemukan kesalahan informasi atau konteks, silakan hubungi via WhatsApp di nomor +62-831-9391-8288.