
Yogyakarta – Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada awal tahun 2026 menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah berbagai dinamika ekonomi. Berbagai indikator strategis mencatat perkembangan positif, mulai dari inflasi yang tetap terkendali, peningkatan kesejahteraan petani, penguatan kinerja ekspor, hingga kebangkitan sektor pariwisata. Capaian ini mengindikasikan fondasi ekonomi DIY semakin kokoh dan mampu menjaga momentum pertumbuhan berkelanjutan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY per Mei 2026 mencatat inflasi bulanan sebesar 0,15 persen. Inflasi tahun kalender Januari-Mei tercatat 1,22 persen, sementara inflasi tahunan mencapai 2,77 persen. Angka-angka ini mencerminkan stabilitas harga yang terjaga dan kondisi ekonomi daerah yang relatif sehat.
Plt. Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa inflasi Mei 2026 dipengaruhi kenaikan tarif angkutan udara. Namun, tekanan ini berhasil diimbangi oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan, sehingga laju inflasi tetap terkendali. “Secara umum kondisi harga di DIY masih relatif terkendali. Kenaikan tarif angkutan udara dan beberapa komoditas pangan memang memberikan tekanan inflasi, tetapi masih dapat diimbangi oleh penurunan harga sejumlah komoditas lain sehingga laju inflasi tetap terjaga,” ujar Endang dalam rilis Berita Resmi Statistik BPS DIY, Selasa (2/6).
Sektor pertanian turut mencatat kabar baik dengan meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 yang mencapai 109,16, atau naik 2,47 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan membaiknya daya beli petani terhadap kebutuhan konsumsi dan biaya produksi.
Menurut Endang, peningkatan NTP didorong oleh kenaikan harga komoditas unggulan seperti cabai merah, salak, gabah, dan sapi potong. Subsektor hortikultura memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan NTP dengan pertumbuhan 3,97 persen, diikuti subsektor tanaman pangan sebesar 3,30 persen. “Kenaikan NTP menunjukkan bahwa secara rata-rata kondisi petani membaik. Harga yang diterima petani meningkat lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga yang harus mereka bayar. Ini menjadi indikator positif bagi kesejahteraan petani di DIY,” jelasnya.
Perdagangan luar negeri DIY juga menunjukkan performa impresif. Selama Januari-April 2026, nilai ekspor mencapai US$206,83 juta, meningkat 17,54 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai impor turun 22,60 persen menjadi US$50,72 juta. Kondisi ini menghasilkan surplus neraca perdagangan DIY sebesar US$156,12 juta, meningkat sekitar US$45,67 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja ekspor DIY masih didominasi sektor industri pengolahan yang menyumbang lebih dari 99 persen total ekspor. Produk seperti pakaian jadi, tekstil, barang kulit, plastik, dan perabot rumah tangga menjadi komoditas unggulan yang diminati pasar internasional. Tiga negara tujuan ekspor terbesar DIY adalah Amerika Serikat, Australia, dan Jerman.
Optimisme juga terpancar dari sektor pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) pada April 2026 mencapai 8.689 kunjungan, naik 33,06 persen dari bulan sebelumnya. Secara kumulatif, kunjungan wisatawan mancanegara Januari-April 2026 mencapai 29.394 kunjungan, tumbuh 27,11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Perjalanan wisatawan nusantara ke DIY pada April 2026 mencapai 3,59 juta perjalanan, meningkat 4,55 persen dibandingkan Maret 2026. Tingginya mobilitas wisatawan berdampak pada sektor akomodasi. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang naik menjadi 24,97 persen, sementara hotel nonbintang mencapai 48,23 persen. Jumlah tamu hotel yang menginap juga meningkat menjadi 701.094 orang, naik 17,80 persen dari bulan sebelumnya.
“Kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara menunjukkan bahwa daya tarik Yogyakarta sebagai destinasi wisata masih sangat kuat. Ini menjadi sinyal positif bagi sektor pariwisata dan berbagai usaha yang terkait,” ungkap Endang.
Di sektor transportasi, kereta api tetap menjadi moda pilihan utama. Sepanjang Januari-April 2026, jumlah penumpang kereta api yang berangkat dari DIY mencapai 3,90 juta orang, meningkat 7,63 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kinerja angkutan barang kereta api juga tumbuh positif, mencerminkan tingginya aktivitas distribusi dan perdagangan di wilayah DIY.
Berbagai capaian ini menunjukkan perekonomian DIY tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus tumbuh dengan kualitas yang semakin baik. Stabilitas harga, peningkatan kesejahteraan petani, penguatan ekspor, serta pemulihan sektor pariwisata dan transportasi menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekonomi daerah.
Di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung, DIY membuktikan kemampuannya menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, petani, pelaku industri, dan masyarakat menjadi modal utama untuk terus memperkuat daya saing daerah dan mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, serta menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat. (Fn)
Seluruh informasi di situs ini dipublikasikan dengan itikad baik untuk tujuan informasi umum. Segala tindakan yang dilakukan pembaca berdasarkan informasi dari situs ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing. Artikel ini disusun dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Mohon gunakan informasi secara bijak dan lakukan verifikasi tambahan bila diperlukan. Jika ditemukan kesalahan informasi atau konteks, silakan hubungi via WhatsApp di nomor +62-831-9391-8288.