Ilustrasi artikel
Gambar ilustrasi. Sumber: Unsplash

Yogyakarta, 31 Juli 2026 – Ribuan pesepeda yang tergabung dalam Jogja Last Friday Ride (JLFR) memadati kawasan Malioboro pada Jumat malam. Kehadiran mereka berbaur dengan suasana Car Free Night, menciptakan keramaian yang diiringi suara kayuhan pedal, putaran rantai, dan denting lonceng sepeda. Antusiasme peserta menjadikan Malioboro semakin hidup, dengan arus pesepeda yang mengalir tertib dan kondusif.

Kondisi yang lancar ini merupakan hasil sinergi antara Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, Dinas Perhubungan (Dishub), Polresta Yogyakarta, dan seluruh petugas keamanan. Rekayasa lalu lintas serta pengamanan yang diterapkan memungkinkan ribuan pesepeda melintas tanpa hambatan berarti, berbeda dengan kepadatan yang biasa terjadi.

Muhammad Rian (19), seorang pelajar dari Bantul, mengungkapkan kegembiraannya bisa kembali mengikuti JLFR. Meskipun menempuh perjalanan sekitar 30 menit untuk mencapai Malioboro, ia menilai kegiatan rutin sejak 2010 ini menjadi sarana berolahraga sekaligus menikmati keindahan kota di malam hari bersama teman-teman. “Kebetulan lumayan ramai dan seru juga, apalagi saya sama temen juga disini,” ujarnya.

Namun, Rian juga mencatat masih ada sebagian peserta yang kurang tertib dalam berkendara maupun bertutur kata. Ia berharap ke depannya seluruh peserta dapat lebih disiplin dan saling menghormati demi menjaga citra JLFR sebagai ikon bersepeda di Yogyakarta. “Harapannya mungkin ke depannya lebih tertib lagi ya, karena saya lihat dari tadi itu agak berantakan juga jalurnya orang yang sepedaan. Mungkin tutur katanya juga pada dibenahi untuk para peserta yang ikut JLFR ini, biar nggak merusak reputasi JLFR itu sendiri,” jelasnya.

Senada, Kuncung (30) dari Sleman, rela menempuh perjalanan 35 menit dari Jalan Kaliurang (Jakal) menuju Malioboro untuk mengikuti JLFR yang digelar sebulan sekali ini. Ini merupakan partisipasinya yang ketiga. “Ya ikut meramaikan acara aja Mas. Ini kan acara tiap akhir minggu di akhir bulan,” tuturnya.

Kuncung berharap seluruh peserta JLFR dapat terus menjaga ketertiban dan kondusivitas agar tidak mengganggu pengguna jalan lain. Ia juga berharap kegiatan ini semakin diminati masyarakat, seiring dengan upaya mengembalikan budaya bersepeda di DIY. “Ya buat rekan-rekan JLFR, lebih hati-hati di jalan, jaga kondusivitas. Semoga besok ke depannya lebih maju, orang-orang yang naik sepeda lebih banyak,” tutupnya.

Jogja Last Friday Ride (JLFR) adalah gerakan komunitas yang mewadahi masyarakat DIY untuk bersepeda bersama setiap Jumat terakhir di akhir bulan. Meskipun pernah menuai pro dan kontra terkait dampak kemacetan dan perilaku peserta, kolaborasi antara penyelenggara, pemerintah, aparat keamanan, dan pemangku kepentingan lainnya menunjukkan bahwa kegiatan ini dapat berjalan tertib dan kondusif.

Dukungan penuh dari berbagai pihak dalam mengelola arus peserta, mengatur lalu lintas, serta melakukan rekayasa dan pengamanan menjadi kunci kelancaran mobilitas. Sinergi ini diharapkan terus terjaga demi keseimbangan antara antusiasme peserta JLFR dan kenyamanan pengguna jalan lain, menjadikan kegiatan ini ruang bersepeda yang aman, tertib, dan dinantikan.

Disclaimer & Legal Notice

Seluruh informasi di situs ini dipublikasikan dengan itikad baik untuk tujuan informasi umum. Segala tindakan yang dilakukan pembaca berdasarkan informasi dari situs ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing. Artikel ini disusun dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Mohon gunakan informasi secara bijak dan lakukan verifikasi tambahan bila diperlukan. Jika ditemukan kesalahan informasi atau konteks, silakan hubungi via WhatsApp di nomor +62-831-9391-8288.