Ilustrasi artikel
Gambar ilustrasi. Sumber: Unsplash

Suasana megah namun hangat menyelimuti Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Sabtu malam (16/5). Panggung konser Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) bertajuk “Gregah Nusa” memadukan denting orkestra dengan alunan gamelan dan instrumen tradisi Nusantara. Di antara ratusan penonton, tampak Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X didampingi GKR Hemas menyaksikan pertunjukan tersebut.

Lebih dari sekadar konser musik, “Gregah Nusa” menjadi ajang pertemuan tradisi dan modernitas, menunjukkan bagaimana budaya terus beradaptasi tanpa kehilangan akarnya. Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Keraton Yogyakarta menyampaikan pesan tentang identitas bangsa, keberagaman, dan semangat kebangkitan melalui musik.

Ketua Panitia, GKR Bendara, menjelaskan bahwa “Gregah Nusa” lahir dari harapan agar budaya tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga sumber energi masa depan. Istilah “Gregah” berarti bangkit dalam bahasa Jawa, sementara “Nusa” merujuk pada tanah air. “Konser ini menjadi seruan untuk membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap identitas bangsa melalui musik,” ujarnya.

Pemilihan Jakarta sebagai lokasi pertunjukan oleh Keraton Yogyakarta dinilai strategis untuk mengenalkan budaya Jawa kepada audiens yang lebih luas dan beragam. Melalui YRO, Keraton berupaya menjadikan budaya sebagai ruang dialog yang inklusif dan dapat diterima oleh berbagai generasi.

GKR Bendara menambahkan, “Ini agenda tahunan Keraton hadir di Jakarta. Selain konser orkestra, kami juga menghadirkan instalasi pameran bertema Gregah Nusa. Harapannya, kegiatan ini dapat terus hadir setiap tahun.”

YRO menyajikan musik tradisi dalam format baru dengan memadukan orkestra Barat dan instrumen Nusantara. Penyelarasan sistem musikal diatonis dan pentatonis menghasilkan harmoni baru yang khas Indonesia di panggung modern, bukan sekadar kolaborasi biasa.

GKR Bendara menegaskan bahwa langkah ini merupakan upaya pengemasan ulang budaya agar tetap relevan di era modern. Menurutnya, budaya tidak pernah usang, melainkan bergantung pada cara pengemasan dan perkenalannya kepada publik. “Budaya orkestra sebenarnya sudah ada sejak masa HB VII dan HB VIII. Tantangannya hari ini adalah bagaimana mengemas ulang tradisi tanpa melewati batas antara modernitas dan nilai budaya itu sendiri,” tandasnya.

Di bawah arahan Konduktor MB Manggalawaditra, YRO bersama Yogyakarta Royal Choir membawakan delapan lagu. Penampilan juga dimeriahkan oleh Solois Violin MJ Cokrowaditro, Solois Cello Raden Dwityatama Darmasakti, serta Cokekan dan Sinden Kawedanan Kridhamardawa.

Konser dibuka dengan lagu “Jenang Gulo” dan ditutup dengan “Koyo Jogja Istimewa”.

Malam itu semakin semarak dengan kolaborasi bersama musisi asal Bantul, Helarius Daru Indrajaya atau Ndarboy Genk. Kehadirannya memberikan warna berbeda dan menunjukkan keterbukaan YRO terhadap kolaborasi lintas genre dan generasi. Lagu-lagu populer Ndarboy Genk seperti “Indonesia Bakoh”, “Lanang Tenan”, dan “Koyo Jogja Istimewa” berpadu dengan sentuhan orkestra, disambut antusias oleh penonton.

Bagi Daru, kolaborasi ini bukan hanya pengalaman musikal, tetapi juga kebanggaan sebagai seniman daerah yang tampil di panggung nasional. “Senang dan bangga tahun ketiga bisa kembali berkolaborasi bersama YRO. Semoga YRO terus memberi kesempatan bagi seniman-seniman Yogyakarta untuk berkembang dan berkolaborasi. Konser seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda dibanding tampil di panggung biasa,” terangnya.

Project Manager konser, Bagus Pradipta, menyebut “Gregah Nusa” sebagai metafora kebangkitan nasionalisme Indonesia, yang sengaja dihadirkan berdekatan dengan momentum lahirnya Boedi Oetomo. “Gregah Nusa bermakna bangkitnya bangsa dari keterpurukan, yang menjadi simbol awal pergerakan modern melawan kolonialisme,” imbuhnya.

Keraton berharap konser ini memberikan dampak positif, terutama bagi generasi muda, dalam mengenal budaya, menumbuhkan kebanggaan, dan mendorong pelestariannya. Melalui YRO, Keraton Yogyakarta tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga menunjukkan bahwa budaya mampu menjadi kekuatan pemersatu di tengah perubahan zaman. Budaya dari panggung YRO hadir sebagai napas yang terus hidup, bergerak, dan membangkitkan bangsa.

Disclaimer & Legal Notice

Seluruh informasi di situs ini dipublikasikan dengan itikad baik untuk tujuan informasi umum. Segala tindakan yang dilakukan pembaca berdasarkan informasi dari situs ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing. Artikel ini disusun dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Mohon gunakan informasi secara bijak dan lakukan verifikasi tambahan bila diperlukan. Jika ditemukan kesalahan informasi atau konteks, silakan hubungi via WhatsApp di nomor +62-831-9391-8288.